2
Jun
2019
0

Kebiasaan Kita Bukanlah Takdir

Semua orang punya kebiasaan, kebiasaan baik atau kebiasaan buruk. Baik itu kebiasaan yang unik maupun kebiasaan yang hampir sebagian orang punya. Baik itu kebiasaan yang tidak memberikan efek apa-apa, maupun kebiasaan yang memberikan efek negatif baik dalam jangka waktu pendek, maupun jangka waktu panjang. Ada sahabat saya yang dulu kalau mengerjakan tugas di depan laptop, tanpa sadar dia menggaruk-garuk kepala bagian kanan depan. Itu salah satu kebiasaan unik dan tidak terlalu merugikan dirinya. Atau kebiasaan umum seperti kebiasaan menggosok gigi setiap hari. Bahkan kebiasaan menggosok gigi ini sadar atau tidak sadar kita ajarkan ke anak kita secara turun-temurun

Namun pernahkah kita bertanya kenapa kita terbiasa melakukan hal yang menjadi kebiasaan kita? Apakah kebiasaan tersebut baik untuk kita? Jika kebiasaan yang kurang baik bagi diri kita, atau anak kita, atau keluarga kita, apakah kita bisa mengubahnya menjadi lebih baik?

Untuk kita yang punya kebiasaan yang kurang baik dan hendak mengubahkan menjadi kebiasaan yang lebih baik, ada dua kabar. Kabar baiknya, kebiasaan bukan takdir, tidak abadi, dan bisa diubah. Namun kabar buruknya adalah bukan perkara mudah untuk mengubah kebiasaan. Tidak mudah namun bukan hal yang mustahil

Dalam buku “The Power of Habit” karangan Charles Duhigg mengungkapkan sebuah penelitian mengenai otak manusia dari para ilmuwan tentang kebiasaan. Kebiasaan adalah proses di dalam otak kita yang berupa suatu lingkaran yang bertahap tiga yakni tanda, rutinitas, dan ganjaran. Kebiasaan bisa berubah dan tergantikan baik secara sadar ataupun tidak sadar. Mungkin kita juga pernah mengalami ada satu atau beberapa kebiasaan kita yang hilang atau berubah seiring waktu. Kita bisa jadi kehilangan tanda atau ganjaran yang menyebabkan kebiasaan kita juga ikut hilang atau berubah

Konsep lingkar bertahap tiga ini membuktikan kepada kita jika kebiasaan bukanlah takdir. Kebiasaan manusia memang kuat namun rapuh. Konsep ini pernah membuat Pepsodent pada tahun 1930-an mendunia karena mengubah kebiasaan masyarakat yang jarang gosok gigi menjadikan kebiasaan gosok gigi adalah hal yang harus dilakukan setiap hari. Pepsodent kemudian membuat orang merasa tanpa sadar harus menggosok gigi setiap hari. Tanpa berpikir, orang secara otomatis harus menggosok gigi setiap hari saat ini. Pepsodent membangun kebiasaan baru bukan hanya untuk segelintir orang, namun juga untuk masyarakat dunia

Atau bagaimana jutaan pecandu alkohol di amerika berhasil berhenti dari kebiasaan minum melalui organisasi Alcoholics Anonymous. Para pecandu diajak menemukan tanda dan ganjaran yang mendorong kegiatan alkoholik mereka, dan membantu mereka menemunkan rutinitas atau kebiasaan baru yang lebih baik.

Lingkar kebiasaan bertahap tiga ini juga mengubah seorang anak bernama Mandy, yang semula sering menggigiti jari kuku hingga jari kuku nya rusak dan penuh koreng, menggigiti jari kuku nya berkali-kali setiap hari baik saat sendiri maupun saat bersama teman-temannya, lalu kemudian Mandy bisa berhenti dari kebiasaan itu dan menjalani kehidupan normal.

Secara teori konsep lingkar bertahap tiga ini sederhana. Tanda, Rutinitas (kebiasaan), ganjaran. Saat kita ingin mengubah kebiasaan kita, kita harus menemukan tanda-tanda secara detail sesaat sebelum kebiasaan tersebut kita jalani. Setelah menemukan tanda-tanda secara detail, kita harus menemukan ganjaran atau apa yang ingin kita dapatkan dari melakukan kebiasaan tersebut. Proses penemuan tanda dan ganjaran ini memang bukan proses yang mudah, namun ketika kita bisa menemukannya dengan tepat, maka mengubah rutinitas (kebiasaan) yang terkait akan lebih mudah

Di awal-awal kuliah, saat saya yang baru pertama pindah ke kota besar, saya terkena kebiasaan bermain playstation. Hal yang biasa terjadi untuk orang yang berpindah tempat tinggal dengan lingkungan yang serba baru, muncul kebiasaan baru dan menghilangnya kebiasaan lama. Rasanya hampir setiap malam sepulang kuliah saya harus bermain playstation. Saya menyadari itu kurang baik bagi saya, saya merasa sepertinya saya harus pindah tempat tinggal agar setiap malam saya tidak bermain playstation

Saya pun baru menyadari, konsepnya sama, lingkar kebiasaan bertahap tiga. Kebiasaan itu ternyata muncul bukan karena rasa bosan namun karena kondisi teman-teman di tempat tinggal tersebut yang mendukung. Rasa atau tanda ingin bermain muncul ketika mendengar teman-teman yang sedang bermain bersorak meriah. Akhirnya, setelah saya pindah tempat tinggal, kebiasaan itu hilang seiring waktu.

Namun kebiasaan jenis lain terkadang sangat sulit diubah meski bukan mustahil. Oleh karena nya, untuk kebiasaan yang rumit terutama, kita terlebih dahulu butuh “kepercayaan” untuk mengubahnya. Sebagai contoh jika kita perokok dan berencana ingin mengubahnya, maka kita terlebih dahulu harus percaya kalau kita bisa berhenti merokok. Tanpa kepercayaan tersebut, hanya akan ada ribuan “excuse” yang hinggap di otak kita.

Konsep lingkaran tahap tiga yang disampaikan dalam buku “The Power of Habit” ini menunjukkan bahwa, dengan niat dan tekad yang kuat, konsep ini bisa mengubah hampir sebagian besar kebiasaan. Dari kebiasaan yang sederhana, sampai kebiasaan yang ekstrem dan berbahaya untuk diri sendiri dan atau orang lain. Kita butuh percaya terlebih dahulu jika kita bisa berubah, merinci tanda dan ganjaran, dan mengganti kebiasaan lama kita dengan kebiasaan baru yang memiliki ganjaran yang serupa. Maka seiring waktu kebiasaan lama kita akan tergantikan dengan kebiasaan baru

Leave a Reply